dingin semakin merajam..
begitu pula dengan kutukan rindu
semakin menjajah..
hembusan nafasku..
hanya mampu melahirkan aksara aksara yang terlunta
merindukanmu……
pesakitan
Posted in puisi dengan kaitan (tags) maria on 9 September 2009 by AMKertas-kertar
Posted in puisi dengan kaitan (tags) maria on 28 Agustus 2009 by AMKertas kertas lapar takkan sanggup habiskan kata kata yang kucoretkan untukmu..yang menjadikanku peratap
tentang harap yang tak sempat genap
Mimpi panjang yang tergerus kepahitan.
membuatku hanya mampu memandang karang.
teriak yang tersendat menjelma bisik dalam perih yang senantiasa berulang…
au achh
Posted in puisi, umum dengan kaitan (tags) maria on 26 Agustus 2009 by AM“Saat cinta berkunjung ,aku tak tahu harus berbuat apa…. Dialah si-Jiwa misterius , yang terus menghantui dan selalu bernyanyi bagi jiwa sepiku… Ia setia melantunkan senandung surgawi didepan pintu jiwaku….walau dia tahu pintu itu takkan kubuka untuknya…dengan ketulusan hati….ia membacakan syair cantiknya sebelum ku tertidur… ‘Wahai Mahadewiku…syair-syair cinta telah pergi dan berlalu dari jendela kamarku. Tapi aku masih tak tahu apa sesungguhnya cinta itu.’ “Ketika kau datang membawakan sekuntum bunga, aku kira itulah cinta. Ternyata salah. Aku rasa kau hanya bermaksud menitipkan sekuntum mawar yang terjatuh dari sepeda seorang penjual bunga yang lewat didepanmu.’ ‘Dari kebingunganku itu….aku ingin engkau percaya-bahwa dirimu tetap tinggal dihatiku…aku tak dapat begitu saja memusnahkan kau dari jiwaku…kau telah menggengam hatiku, dan engkau telah menenggelamkan perasaanku dilautan yang tak bertepi dan tak berbatas…’ Duhai Mahadewiku….dirimu selalu kukenang …. wujudmu tetaplah abadi…..walau engkau tahu hati ini telah tertambat dengan hati yang lain…..kuharap engkau takkan pernah kecewa, maka maafkanlah aku dan selamilah nestapa cintaku, dapatkah kau rasakan perasaan seorang gadis yang terperangkap dari seorang lelaki yang mengasihi dan lelaki lain yang mencintainya?! ……’ “Duhai pelangi….kadang-kadang aku mengharap jendela kamar ini ditebali dan diselubungi debu pekat agar cahaya mataku tak terlihat orang-orang yang melintas didepannya….Aku tak ingin menciptakan luka pada setiap jiwa-yang ingin sekedar mampir menghampiri jendela itu, seraya mengulurkan sesuatu yang membesarkan hatiku, tanpa tersadar aku telah memulai menghiasi matahatinya dengan kekecewaan….dengan lirih dan suara yang bergetar kuharap semilir angin akan mengabarkan semua rahasia hatiku padamu…..” Dari kastil yang berselimutkan kegelapan…terlihat sesosok penyair muda sedang meratap dari sebuah dinding megah yang dipenuhi puisi -perlahan dinding-dinding megah itu terbakar dalam kobaran bara api asmara…dia merentangkan tangannya , dan berteriak sekeras-kerasnya dari setiap ruh kelam yang mengelilinginya , tubuhnya terjatuh lunglai diatas abu kertas kehampaannya, dibiarkan olehnya sukma agung melayang-layang mencari separuh jiwanya yang hilang…… Dengan jemari gemetar dan lemah, sang penyair meraih pena lalu ia membalas surat itu…. “Duhai Mahadewiku…dikeramangan ini…bersama ribuan lilin jiwaku terbakar perih…..aku sangat kesepian…..berabad-abad aku hidup diatas atap kastil ini, tanpa sebuah pemahaman- melakukan apa atau menunggu siapa…..kini racun itu telah mengalir dan menyebar dalam darahku, aku merasakan lumpuh yang sebenarnya lumpuh….tubuhku terkapar diatas abu pembaringanku sendiri….aku tak dapat meggapai kembali bayngan ganjil serta inspirasiku itu, dan kini mataku menjadi buta, aku tak dapat membaca lagi , serta menggenggam lembaran puisi yang pernah tercipta itu…’ “Kini semuanya sedang terbakar, bunga-bunga api telah memandikan tubuhku yang tergolek lemah diatasnya….dari kobaran api dan kepungan asap yang membalut ragaku, aku tetap mencoba menulis kata-kata terakhir untukmu, kutoreh dan kutulis diatas kulit ariku yang melepuh dan terbakar ‘….. “Seandainya kabut hitam telah menutup matamu sehingga dirimu tak mengetahui diriku yang sedang meregang nyawa diruang kehampaanku ini, setidaknya langit telah mendengar serta mengukir kisah sedihku ini , dan telah kutitipkan senyum serta kerlip terakhir untukmu pada bulan dan bintang…. Secepat mungkin kutuangkan segala , sebelum aku binasa dan runtuh bersama mahkota duriku ini dan kuyakin senandung malam akan mengabarkan semuanya kepadamu….kisah seorang pujangga pencari cinta sejati…dari jemariku yang terbakar dan luka yang tersayat -kukembali menulis rintihan suara hati….” ” Duhai kekasih hati , …” “Aku mendamba kala kelopak mataku terbuka kuingin kau disana , duduk disampingku seraya membawakan senyum dan setangkup rindu….” ” Hanya untukmu seorang , seluruh kerinduanku , mimpi-mimpiku , tangis – tawaku, syair -syair dan doaku – kubingkai dalam lautan bahtera jiwa…karena engkaulah lautan tempat segala bahtera keinginan bermuara. Kini hatiku telah binasa , luluh lantak bersama istana kebesaranku….” ” Dari puing-puing kehancuranku aku menceritakan padamu , dikala ku mencintaimu dengan sepenuh hati, hatiku telah menciptakan kedalaman samudera yang nyaris sama dengan kedalaman jiwa.” Engkaulah inspirasi bagi seekor merpati untuk berani melintasi awan putih guna menjemput kekasih impian. Apakah cintamu masih bersemayam dalam sanubariku ?!….atau rasa sakit itu semakin lama semakin mengaburkan rasa cintaku darimu?!”….. Tidak !…Aku tetap mencintai dan setia menunggumu hingga ajal menjemputku!…. Aku tetap menyakini sesuatu yang hidup didalam raga ini adalah cinta sejati. Engkaulah yang menghadirkan cinta dalam hatiku, dan menjadikanku sebagai tawanannya. Hanya engkau seorang dan satu-satunya Dewi cinta yang memahami – rahasia malam dan siang jiwaku… Aku tak tahu apa yang harus kulakukan hari ini , tanpa kehadiranmu disisiku… Engkaulah Mahadewi tercantik dan termegah yang tak pernah kutaklukkan, Kau tak seperti “Dewi-dewi” yang lain , yang singgah diistana jiwa ku , hanya untuk menikmati pijar mataku beberapa menit sebelum meraka pergi. Ketika istanaku tertutup ilalang yang lebat dan nyaris tertelan bumi ,aku terpaksa menyanyikan senandung dan elegi cinta dengan keras membahana- berharap kelak ada sebuah pancaran matahati yang mengetahui keberadaanku disini, kemudian mengangkat jiwaku dari kegelapanku yang tak bertepi dan berdasar….. Dan ternyata engkaulah – seseorang yang mengetahuinya. Kau yang mengjhias istanaku dengan warna indahmu , kau yang bersihkan istanaku dengan hujan berkah yang turun dari kesucian langit…. Engkaulah yang mengelap kaca pekatku, hingga jendela kastilku kembali bening, Kau singkapkan ilalang dari istanaku dengan kelembutan jemari-jemari cintamu yang berapi, lalu kau hidupkan beragam bunga diladang-ladangnya…. Bahkan kau telah bukakan pintu yang dulu kututup rapat, untuk melewatinya dan……tiba-tiba kita sudah bergenggaman tangan ….. “Duhai cinta, aku menginginkan dirimu sebagai matahari yang menyapa hangat relung jiwaku…..Engkaulah mata air kerinduanku , yang dengan kesegerannya telah cukup menghilangkan dahaga jiwaku” ” Aku berjanji akan meletakkan jiwamu diantara keterjagaanku yang satu dengan keterjagaan yang lain, Digelap dan diterangku – jiwamu akan kusandingkan, Dari setiap mata hati yang melihat dan menyapa dirimu -parasmu kuhias dan kuletakkan sebagai cerminan mata hati , karena kita telah sama-sama belajar menjadikan hati sebagai cermin, Setiap pagi aku membukanya …berharap kicauan pipit mengabarkan hikmah perjalanan kisah-kasih abadi kita – kepada setiap jiwa yang melintas ” Perlahan api dalam kastil semakin berkobar….terlihat kedua mata kaki sang pujangga telah terluka terbakar bara api…dengan lirih serta menahan sakit yang teramat, ia kembali menuliskan kisah kasihnya….. ‘ Airmataku mengalir jernih dari kelopak jiwa , seakan menyambut cengkeraman kuku-kuku maut, hanya sempat kurasakan dari ketidak-sadaranku kedua tanganku membentang seolah ingin menggapai langit….” Sorot mataku tajam , sekan menembus atap kastil… ” Duhai matahari bakarlah gelora cinta dalam diriku….bakarlah hingga mengabu serta tertiup angin nan kelam !……” ” Angkatlah aku wahai kematian dari siksa ketersendirianku yang amat mencekam ! …” ” Wahai maut , bidadari cantik pendamping hari akhirku ! …Kudapati setiap merpati datang -kembali pergi, dan aku sendiri lagi….Dimanakah kekasihku , wahai maut yang lembut !…yang akan menerangi dan menjadikan pelita bagi tiap jejak langkahku?!….” “Luka ini telah mengoyak bathinku, darah mengalir deras dari ruang biliknya….kini rasa cinta yang membawa ruhku terbang mengembara lepas , tak lagi berdiam di dalam kastil jiwaku …” ” Kini aku bagaikan ulat-ulat yang hidup dari seonggok mayat , aku tak dapat lagi mencium keharuman bunga serta keindahannya !”…… “Jasadku terbujur layu dan terbakar….jiwaku memelas meninggalkan raga penyair muda itu….” ” Dengan hening , jemari maut mengangkat perlahan-lahan ruhku hingga terlepas dari raga , ruhku pun melayang-layang meninggalkan jasad yang ada didepannya , ingin kusentuh wajahnya untuk terakhir kali, namun apa dayaku -ku tak dapat merasakan kelembutan bibirnya , yang kini tersisa hanyalah asap duka dan bara api kesia-siaan…..” Tiba-tiba saja hujan datang dengan goresan kilat yang bergemuruh…kini semua telah sia-sia….hujan tak mampu lagi memadamkan api….praaahara dan badai telah meruntuhkan mahkota duri dan istana jiwa nya- yang kini menyatu dalam pelukan bumi Tinggalah rintik-rintik hujan , diam menyenandungkan airmata kesedihan…. Malam berganti siang…siang berganti malam….abu jenazahnya perlahan-lahan hilang tersapu angin….
FADILAH shalat Tarawih
Posted in agama dengan kaitan (tags) mariaku on 25 Agustus 2009 by AMDiriwayatkan oleh Saiyidina Ali (r.a.) daripada Rasulullah S.A.W., sebagai jawapan dari pertanyaan sahabat-sahabat Nabi S.A.W. tentang fadhilat (kelebihan) sembahyang sunat terawih pada bulan Ramadan:
Malam 1 – keluar dosa-dosa orang mukmin pada malam pertama sepertimana ia baru dilahirkan, mendapat keampunan dari Allah.
Malam 2 – diampunkan dosa-dosa orang mukmin yang sembahyang terawih serta kedua ibu bapanya (sekiranya mereka orang beriman).
Malam 3 – berseru Malaikat di bawah ‘Arash supaya kami meneruskan sembahyang terawih terus menerus semoga Allah mengampunkan dosa engkau.
Malam 4 – memperolehi pahala ia sebagaimana pahala orang-orang yang membaca kitab-kitab Taurat, Zabur, Injil dan AL-Quran.
Malam 5 – Allah kurniakan baginya pahala seumpama orang sembahyang di Masjidilharam, Masjid Madinah dan Masjidil Aqsa.
Malam 6 – Allah kurniakan pahala kepadanya pahala Malaikat-malaikat yang tawaf di Baitul Ma’mur (70 ribu Malaikat sekali tawaf), serta setiap batu-batu dan tanah-tanah mendoakan supaya Allah mengampunkan dosa-dosa orang yang mengerjakan sembahyang terawih pada malam ini.
Malam 7 – Seolah-olah ia dapat bertemu dengan Nabi Musa serta menolong Nabi ‘Alaihissalam menentang musuh ketatnya Fir’aun dan Hamman.
Malam 8 – Allah mengurniakan pahala orang sembahyang terawih sepertimana yang telah dikurniakan kepada Nabi Allah Ibrahim ‘Alaihissalam.
Malam 9 – Allah kurniakan pahala dan dinaikkan mutu ibadat hambanya seperti Nabi Muhammad S.A.W.
Malam 10 – Allah swt mengurniakan kepadanya kebaikan di dunia dan di akhirat.
Malam 11 – Keluar ia daripada dunia (mati) bersih daripada dosa seperti ia baru dilahirkan.
Malam 12 – Datang ia pada hari Qiamat dengan muka yang bercahaya (cahaya ibadatnya).
Malam 13 – Datang ia pada hari Qiamat dalam aman sentosa daripada tiap-tiap kejahatan dan keburukan.
Malam 14 – Datang Malaikat menyaksikan ia bersembahyang terawih, serta Allah tiada menyesatkannya pada hari Qiamat.
Malam 15 – Semua Malaikat yang menanggung ‘Arasy, Kursi, berselawat dan mendoakannya supaya Allah mengampunkannya.
Malam 16 – Allah swt tuliskan baginya terlepas daripada neraka dan dimasukkan ke dalam Syurga.
Malam 17 – Allah kurniakan orang yang bertarawih pahalanya pada malam ini sebanyak pahala Nabi-Nabi.
Malam 18 – Seru Malaikat: Hai Hamba Allah sesungguhnya Allah telah redha kepada engkau dan ibu bapa engkau (yang masih hidup atau mati).
Malam 19 – Allah swt tinggikan darjatnya di dalam Syurga Firdaus.
Malam 20 – Allah kurniakan kepadanya pahala sekelian orang yang mati syahid dan orang-orang solihin.
Malam 21 – Allah binakan sebuah istana dalam Syurga daripada Nur.
Malam 22 – Datang ia pada hari Qiamat aman daripada tiap-tiap dukacita dan kerisauan (tidaklah dalam keadaan huru hara di Padang Mahsyar).
Malam 23 – Allah swt binakan kepadanya sebuah bandar di dalam Syurga daripada Nur.
Malam 24 – Allah bukakan peluang 24 doa yang mustajab bagi orang berterawih malam ini, (elok sekali berdoa ketika dalam sujud).
Malam 25 – Allah Taala angkatkan daripadanya siksa kubur.
Malam 26 – Allah kurniakan kepada orang bertarawih pahala pada malam ini seumpama 40 tahun ibadat.
Malam 27 – Allah kurniakan kepada orang bertarawih pahala pada malam ini ketangkasan melintas atas titian Siratulmustaqim seperti kilat menyambar.
Malam 28 – Allah swt kurniakan kepadanya 1000 darjat di akhirat.
Malam 29 – Allah swt kurniakan kepadanya pahala 1000 kali haji yang mabrur.
Malam 30 – Allah swt beri penghormatan kepada orang berterawih pada malam terakhir ini yang teristimewa sekali, lalu berfirman:
“Hai hambaKu: makanlah segala jenis buah-buahan yang engkau ingini hendak makan di dalam syurga, dan mandilah engkau daripada air syurga yang bernama Salsabila, serta minumlah air daripada telaga yang dikurniakan kepada Nabi Muhammad S.A.W. yang bernama ‘Al-Kauthar’”.
Pangeran
Posted in puisi dengan kaitan (tags) maria on 24 Agustus 2009 by AMaku terdiam memeluk lututku yang merapat ketakutan
teman-teman mulai berdatangan
nyamuk-nyamuk liar
kecoa-kecoa jalang
semut-semut hitam
mereka menyapa penuh persahabatan
dinding-dinding tebal kusam tersenyum
menyambut pangeran baru dalam kerajaan kejenuhan
yah,.. aku disini menjadi pangeran
dan diluar sana aku hanyalah menjadi cermin ketidak berdayaan
aku senang manjadi pangeran
walau hanya dalam sepetak kepengapan
Luka yang sama
Posted in puisi dengan kaitan (tags) maria on 20 Agustus 2009 by AMDalam kegelapan malam
ditemani bulan dan bintang
masih dengan luka yang sama
luka yang membatin
mengiris hati
Dalam kecerahan pagi
ditemani awan dan mentari
masih dengan luka yang sama
luka dalam hati
yang tiap sayatannya
selalu mengiring hari
Disetiap helaan nafas
masih terasa
Disaat senang pun
masih membayang
luka hati yang perihnya
tidak akan sembuh
dalam satu atau dua hari
But I Love U
Posted in puisi dengan kaitan (tags) maria on 14 Agustus 2009 by AMsebuah jumpa mungkin hanya pengulangan saja
akan harap yang tak sempat genap
dan aku tetap menanti saat jumpa lagi
meski tetap tak pasti…
mungkin…
kita akan seperti bintang yang sulit di gapai
tapi aku mencintaimu…
mungkin semua jalan tertutup
tapi aku mencintaimu…
mungkin…
memilihmu adalah pilihan pahit tanpa kepastian
tapi aku mencintaimu
biarlah karena aku mencintaimu sesederhana itu, sepedih itu
APA BALASANMU
Posted in umum dengan kaitan (tags) mom on 11 Agustus 2009 by AMAPA BALASANMU
Waktu kamu berumur 1 tahun , dia menyuapi dan memandikanmu …
sebagai balasannya … kau menangis sepanjang malam.
Waktu kamu berumur 2 tahun , dia mengajarimu bagaimana cara berjalan .
sebagai balasannya … kamu kabur waktu dia memanggilmu
Waktu kamu berumur 3 tahun, dia memasak semua makananmu dengan
kasih sayang .. sebagai balasannya … kamu buang piring berisi
makananmu ke lantai
Waktu kamu berumur 4 tahun, dia memberimu pensil warna … sebagai
balasannya .. kamu corat coret tembok rumah dan meja makan
Waktu kamu berumur 5 tahun, dia membelikanmu baju-baju mahal dan
indah..sebagai balasannya … kamu memakainya bermain di kubangan lumpur
Waktu berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah … sebagai
balasannya … kamu berteriak “NGGAK MAU ..!”
Waktu berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola … sebagai
balasannya kamu melemparkan bola ke jendela tetangga
Waktu berumur 8 tahun, dia memberimu es krim … sebagai
balasannya.. .kamu tumpahkan dan mengotori seluruh bajumu
Waktu kamu berumur 9 tahun , dia membayar mahal untuk
kursus-kursusmu sebagai balasannya … kamu sering bolos dan sama
sekali nggak mau belajar
Waktu kamu berumur 10 tahun, dia mengantarmu kemana saja, dari
kolam renang sampai pesta ulang tahun .. sebagai balasannya … kamu
melompat
keluar mobil tanpa memberi salam
Waktu kamu berumur 11 tahun, dia mengantar kamu dan temen-temen
kamu kebioskop .. sebagai balasannya … kamu minta dia duduk di
barisan lain
Waktu kamu berumur 12 tahun, dia melarangmu melihat acara tv
khusus untuk orang dewasa … sebagai balasannya … kamu tunggu
sampai dia keluar rumah
Waktu kamu berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong
rambut karena sudah waktunya .sebagai balasannya.. kamu bilang dia
tidak tahu mode
Waktu kamu berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kemahmu
selama liburan .. sebagai balasannya … kamu nggak pernah menelponnya.
Waktu kamu berumur 15 tahun, pulang kerja dia ingin memelukmu …
sebagai balasannya … kamu kunci pintu kamarmu
Waktu kamu berumur 16 tahun, dia mengajari kamu mengemudi mobil
….sebagai balasannya … kamu pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa
mempedulikan kepentingannya
Waktu kamu berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telpon yang
penting .. sebagai balasannya … kamu pakai telpon nonstop semalaman,
waktu kamu berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kamu
lulus SMA.. sebagai balasannya … kamu berpesta dengan teman-temanmu
sampai pagi
Waktu kamu berumur 19 tahun, dia membayar semua kuliahmu dan
mengantarmu
ke kampus pada hari pertama … sebagai balasannya … kamu minta
diturunkan jauh dari pintu gerbang biar nggak malu sama temen-temen.
Waktu kamu berumur 20 tahun, dia bertanya “Darimana saja seharian
ini?”.. sebagai balasannya … kamu menjawab “Ah,
cerewet amat sih, pengen tahu urusan orang.”
Waktu kamu berumur 21 tahun, dia menyarankanmu satu pekerjaan
bagus untuk karier masa depanmu … sebagai balasannya … kamu bilang
“Aku nggak mau
seperti kamu.”
Waktu kamu berumur 22 tahun, dia memelukmu dan haru waktu kamu lulus
perguruan tinggi .. sebagai balasanmu … kamu nanya kapan kamu
bisa main ke luar negeri
Waktu kamu berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture
untuk rumah
barumu … sebagai balasannya … kamu ceritain ke temanmu betapa
jeleknya furniture itu
Waktu kamu berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan
bertanya
tentang rencana di masa depan … sebagai balasannya .. kamu mengeluh
“Aduh gimana sih kok bertanya seperti itu.”
Waktu kamu berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai pernikahanmu ..
sebagai balasannya … kamu pindah ke kota lain yang jaraknya
lebih dari 500 km.
Waktu kamu berumur 30 tahun, dia memberimu nasehat bagaimana merawat
bayimu … sebagai balasannya … kamu katakan “Sekarang jamannya
sudah beda.”
Waktu kamu berumur 40 tahun , dia menelponmu untuk memberitahu
pesta salah
satu saudara dekatmu .. sebagai balasannya kamu jawab “Aku sibuk
sekali,
nggak ada waktu.”
Waktu kamu berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan
perawatanmu … sebagai balasannya … kamu baca tentang pengaruh
negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya
dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang … dan
tiba-tiba kamu
teringat semua yang belum pernah kamu lakukan, … dan itu menghantam
HATIMU bagaikan pukulan godam
MAKA ..
JIKA ORANGTUAMU MASIH ADA .. BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN PERHATIAN
LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI
JIKA ORA NG TUAMU SUDAH TIADA … INGATLAH KASIH SAYANG DAN
CINTANYA YANG TELAH DIBERIKANNYA DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU
Ini adalah mengenai Nilai kasih Ibu dari Seorang anak
yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur.
Kemudian dia menghulurkan sekeping kertas yang
bertulis sesuatu. si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima
kertas yang dihulurkan oleh si anak dan membacanya.
OngKos upah membantu ibu:
1) Membantu Pergi Ke Warung: Rp20.000
2) Menjaga adik Rp20.000
3) Membuang sampah Rp5.000
4) Membereskan Tempat Tidur Rp10.000
5) menyiram bunga Rp15.000
6) Menyapu Halaman Rp15.000
Jumlah : Rp85.000
Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak
yang raut mukanya berbinar-binar.
Si ibu mengambil pena dan menulis
sesuatu dibelakang kertas yang sama.
1) OngKos mengandungmu selama 9bulan- GRATIS
2) OngKos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS
3) OngKos air mata yang menetes karenamu -GRATIS
4) OngKos Khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu -GRATIS
5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu -GRATIS
6) OngKos mencuci pakaian, gelas, piring dan keperluanmu – GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku – GRATIS
Mbuh
Posted in puisi dengan kaitan (tags) maria on 11 Agustus 2009 by AMkuterjemahkan setiap diammu..
sebab tak ada yg lebih bermakna dari segala kata…
dan di situlah ku gubah sebaris puisi yg ku letakkan di sebelah jendela dunia tua..
sperti diammu baitnya memahat rindu yg bergemuruh…
akankah kau menterjemahkan rindu juga puisiku…
tentangmu
Posted in puisi, umum dengan kaitan (tags) maria on 10 Agustus 2009 by AMmungkin hanya intuisi,
sesuatu tanda tanya,
seperti di matamu,
aku melihat masa depan
aku seperti menemukan sahabat sejatiku,
aku percaya jika aku akan tergila2 karena dirimu
Jika kau melihat kemataku,
disitu masih ada bagian dari diriku yang masih berdoa,
berharap mendapatkanmu…